JAKARTA ||BOTVKALIMAYANEWS.COM|| Agenda forum diskusi gagasan, pameran (exhibition), dan business showcase untuk mempertemukan pemuda, komunitas, akademisi, serta pengambil kebijakan pada gelaran Indonesia Youth Summit 2026 memiliki peran penting dalam mengembangkan kreativitas, budaya, dan ekonomi digital.
Acara yang dilaksanakan pada 29–30 Oktober 2026 di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta itu menghadirkan Raffi Ahmad (Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni).
Tema Utama diskusi paran Gen Z adalah “Youth Led the Future” merupakan bagian dari rangkaian peringatan 98 Tahun Sumpah Pemuda.
Ketua Bidang Kepemudaan dan Olahraga IWO Indonesia DPW Jakarta Raya, M. Raehan Suganda, ST menanggapi positif acara tersebut.
Menurutnya, Indonesia Youth Summit 2026 diharapkan dapat mendorong kembangkan kreativitas dari aspek budaya lewat perkembangan ekonomi digital yang masif saat ini.
“Pengembangan kreativitas, pelestarian budaya lokal, dan penguatan ekonomi digital menjadi fokus gagasan program pelatihan yang mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam melestarikan tradisi dan kearifan lokal.
Gagasan tersebut dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap lunturnya budaya lokal di kalangan generasi muda, minimnya konten digital yang mengangkat tradisi daerah, serta terbatasnya keterampilan praktis pemuda untuk memasuki industri kreatif,” tutur Raehan.
Raehan menambahkan, “melalui program ini, pemuda akan mendapatkan pelatihan teknik olah suara, penulisan naskah kreatif, dan produksi video digital.
Materi yang dikembangkan berfokus pada cerita rakyat, sejarah lokal, bahasa daerah, seni tradisional, serta berbagai bentuk kearifan lokal,” jelasnya.
Diketahui, agenda tersebut juga mendorong modernisasi penyajian budaya melalui media digital, antara lain pengisian suara untuk animasi daerah, narasi dokumenter budaya, dan pembuatan konten edukatif di media sosial.
Dalam pelaksanaannya, program akan diawali dengan pembentukan tim penggerak, pengumpulan materi budaya lokal, serta penyusunan kurikulum pelatihan.
Selanjutnya, penyelenggara akan melibatkan tokoh adat dan budayawan untuk memastikan keakuratan materi budaya, serta praktisi media untuk memberikan pelatihan teknis.
Setelah pelatihan, peserta diarahkan menghasilkan karya perdana, seperti video cerita rakyat dengan pengisian suara dalam bahasa daerah maupun bahasa Indonesia.
Karya tersebut kemudian dipublikasikan melalui berbagai platform digital dan diikutsertakan dalam festival atau kegiatan industri kreatif.
Selain mendukung pelestarian budaya, program ini ditujukan untuk membuka peluang ekonomi bagi pemuda melalui produksi konten digital.
Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi modal untuk bekerja sebagai pengisi suara, kreator video, penulis naskah, maupun pelaku usaha kreatif berbasis budaya.
Bagi Raehan, pemuda juga diharapkan berperan sebagai duta budaya digital yang mampu memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas, termasuk audiens internasional.
“Melalui kolaborasi antara pemuda, budayawan, praktisi media, dan pelaku industri kreatif, program pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat pelestarian budaya lokal sekaligus menciptakan peluang ekonomi digital yang berkelanjutan,” ujar Raehan mengakhiri.
[REDAKSI]







