Perjalanan Warisan Islam, Darah Kerajaan, dan Peradaban
Dari Prabu Susuk Tunggal, Ki Ajar Domas, Raden Pamanah Rasa hingga Kesultanan Banten
Rekonstruksi Sejarah Berdasarkan Pitutur Sepuh Leluhur
Oleh: Ibenk Al Bantani
PROLOG
MENELUSURI AKAR PERADABAN WAHANTEN
Menurut pitutur sepuh, sejarah Wahanten Pesisir bukanlah sejarah yang baru dimulai ketika Kesultanan Banten berdiri.
Jauh sebelum masa kesultanan, kawasan ini telah memiliki perjalanan panjang yang berkaitan dengan keluarga kerajaan Sunda, perkembangan Islam, pembukaan wilayah, serta pembentukan pusat pemerintahan dan perdagangan.
Perjalanan tersebut menyimpan kisah tentang para bangsawan, perempuan pembawa warisan keluarga, pemangku kabuyutan, syahbandar, dan para penguasa yang meneruskan pemerintahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di dalamnya terdapat dua warisan besar yang berjalan beriringan: warisan darah dan pemerintahan kerajaan Sunda serta warisan keimanan Islam.
Untuk memahami perjalanan tersebut, kita perlu kembali kepada masa Prabu Susuk Tunggal, Maharana Sunda Pakuan.
BAB I
MAYANG SARI DAN WARISAN KEISLAMAN KELUARGA SUNDA
Menurut pitutur leluhur, Mayang Sari merupakan putri Prabu Susuk Tunggal, Maharana Sunda Pakuan.
Dalam lingkungan keluarga bangsawan Sunda, terdapat pula tokoh Prabu Bratalegawa atau Haji Purwa, yang dikenal dalam tradisi sebagai bangsawan Sunda yang memeluk Islam dan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Haji Purwa menjadi salah satu tokoh penting dalam cerita perkembangan awal Islam di lingkungan bangsawan Sunda.
Menurut rangkaian pitutur yang diwariskan, Mayang Sari memiliki hubungan dengan garis keluarga Haji Purwa dan merupakan seorang Muslimah.
Mayang Sari kemudian menikah dengan Wastu Kencana.
Perkawinan ini menjadi bagian penting dalam cerita masuknya Islam ke lingkungan keluarga istana Galuh Pakuan.
Islam tidak hanya dikenal melalui hubungan perdagangan atau kedatangan para pendakwah, tetapi juga berkembang melalui hubungan keluarga dan perkawinan.
Dari lingkungan keluarga inilah pitutur menempatkan salah satu akar warisan keislaman yang kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya.
BAB II
RADEN PAMANAH RASA DAN PERTEMUAN GALUH PAKUAN DENGAN SUNDA PAKUAN
Dalam silsilah yang diwariskan, Wastu Kencana memiliki keturunan yang kemudian berlanjut kepada Munding Wangi.
Munding Wangi menjadi bagian penting dalam garis keluarga yang melahirkan Raden Pamanah Rasa.
Raden Pamanah Rasa dalam pitutur disebut sebagai putra mahkota dari garis Galuh Pakuan.
Beliau kemudian menikahi seorang putri dari lingkungan Sunda Pakuan bernama Nyi Kentring Manik atau Mayang Sunda.
Nyi Kentring Manik Mayang Sunda memiliki kedudukan penting di lingkungan pemerintahan Sunda Pakuan.
Menurut pitutur, beliau merupakan penasihat Prabu Susuk Tunggal.
Perkawinan Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Kentring Manik Mayang Sunda menjadi lambang pertemuan dua garis besar keluarga kerajaan Sunda.
Galuh Pakuan dan Sunda Pakuan bukan hanya dipertemukan melalui hubungan politik, melainkan juga melalui ikatan keluarga.
Dalam kerangka pitutur, pertemuan tersebut membawa kesinambungan garis keturunan dan warisan keislaman yang telah berkembang dalam lingkungan keluarga.
Raden Pamanah Rasa kemudian dikenal dalam perjalanan sejarah sebagai salah satu tokoh penting dalam silsilah yang menghubungkan Galuh, Sunda, dan Wahanten.
Menurut pitutur ayahhanda dari raden pamanah rasa gugur di perang bubat.
Namun, garis keturunan dan warisan keluarganya tetap berlanjut.
BAB II
KI AJAR DOMAS DAN PERISTIWA NGABANTENAN
Pada masa Prabu Susuk Tunggal, terdapat seorang penasihat bernama Ki Ajar Domas.
Menurut pitutur, Ki Ajar Domas memperoleh tugas untuk memimpin sebuah upacara ruatan atau ngabantenan di kawasan Leuweung Sabakingkin.
Peristiwa ini memiliki kedudukan khusus dalam cerita asal-usul Wahanten Pesisir.
Ngabantenan dalam pitutur merupakan kegiatan pembukaan dan penataan suatu kawasan melalui upacara adat atau ruatan yang dipimpin oleh Ki Ajar Domas.
Kegiatan tersebut bukan sekadar peristiwa seremonial, melainkan menjadi bagian dari proses pembentukan tempat kehidupan masyarakat.
Setelah memimpin kegiatan tersebut, Ki Ajar Domas kemudian dipercaya menjadi pengasuh atau pemangku Kabuyutan Karakatu.
Dengan demikian, nama Ki Ajar Domas menempati kedudukan penting dalam cerita awal terbentuknya pusat adat dan spiritual Wahanten Pesisir.
Leuweung Sabakingkin menjadi tempat yang kelak mengalami perkembangan menjadi pusat kehidupan masyarakat dan pemerintahan.
BAB IV
LEUWEUNG SABAKINGKIN MENJADI KABUYUTAN KARAKATU
Seiring perjalanan waktu, kawasan Leuweung Sabakingkin berkembang menjadi Kabuyutan Karakatu.
Di tempat ini, kehidupan masyarakat mulai memiliki pusat adat dan kewibawaan leluhur.
Ki Ajar Domas menjalankan tugas sebagai pengasuh kabuyutan.
Kabuyutan bukan sekadar tempat tinggal atau permukiman, tetapi menjadi tempat penyimpanan nilai-nilai adat, pengetahuan, tata kehidupan, dan penghormatan terhadap leluhur.
Dalam kerangka pitutur, Kabuyutan Karakatu menjadi salah satu fondasi terbentuknya peradaban Wahanten Pesisir.
Perkembangan berikutnya membawa kawasan tersebut memasuki fase Balekambang.
BAB V
DARI BALEKAMBANG MENUJU KUTE INTEN.
Menurut pitutur, Balekambang kemudian mengalami perkembangan menjadi Kute Inten.
Perubahan tersebut menggambarkan berkembangnya kawasan yang sebelumnya memiliki fungsi adat dan spiritual menuju lingkungan kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Kute Inten menjadi bagian penting dari pusat kegiatan Wahanten Pesisir.
Dalam perkembangannya, kawasan ini berada di lingkungan hukum dan teritorial Syahbandar Tanjung Arum.
Perjalanan tersebut memperlihatkan adanya kesinambungan antara tempat adat, kawasan permukiman, kegiatan perdagangan, dan pemerintahan pesisir.
BAB VI
PRABU SUROSOWAN ATAU KI MAUNG BODAS
Dalam silsilah pitutur, Prabu Surosowan atau Ki Maung Bodas merupakan putra Sri Baduga Maharaja Siliwangi dengan Nyi Kentring Manik Mayang Sunda.
Beliau ditempatkan sebagai keturunan garis Raden Pamanah Rasa dalam silsilah yang diwariskan.
Prabu Surosowan dikenal sebagai seorang Muslim yang mewarisi keislaman melalui lingkungan keluarganya.
Menurut pitutur, beliau kemudian memperoleh kedudukan sebagai Syahbandar Tanjung Arum.
Wilayah kekuasaannya mencakup kawasan Balekambang, Kute Inten, serta lingkungan pesisir Tanjung Arum.
Sebagai syahbandar, beliau memiliki peranan dalam kehidupan pelabuhan, perdagangan, pelayaran, keamanan, dan hubungan antardaerah.
Kedudukan tersebut menjadikan Prabu Surosowan tokoh penting dalam perkembangan pemerintahan Wahanten Pesisir.
Di bawah kepemimpinannya, kawasan pesisir berkembang menjadi lingkungan kekuasaan yang semakin teratur.
BAB VII
KUTE INTEN MENJADI KRATON PAKUAN SUROSOWAN
Dalam perjalanan berikutnya, menurut pitutur, Kute Inten berkembang menjadi pusat pemerintahan yang dikenal sebagai Kraton Pakuan Surosowan.
Perubahan ini menjadi tahap penting dalam perjalanan sejarah Wahanten.
Kawasan yang sebelumnya berkembang sebagai pusat kehidupan masyarakat, perdagangan, dan adat kemudian menjadi pusat pemerintahan kerajaan.
Prabu Surosowan atau Ki Maung Bodas menjadi tokoh sentral dalam perkembangan tersebut.
Beliau mewarisi garis keturunan kerajaan Sunda sekaligus warisan keislaman keluarga.
Dari perkawinannya, menurut pitutur, beliau dikaruniai tiga orang anak:
1. Den Ayu Kaunganten.
2. Pangeran Surajaya atau Prabu Pucuk Umun.
3. Nyi Mas Carik atau Den Ayu Selendang Biru.
Dua putrinya, Den Ayu Kaunganten dan Nyi Mas Carik, dikenal dalam pitutur dengan sebutan Rara Denok.
Nama Rara Denok kemudian dihubungkan dengan nama kolam di lingkungan Kraton Surosowan.
BAB VIII
DEN AYU KAUNGANTEN DAN PEWARISAN TAKHTA
Den Ayu Kaunganten merupakan putri pertama Prabu Surosowan.
Menurut pitutur, sebagai anak sulung, beliau mempunyai kedudukan sebagai pewaris utama garis keturunan dan hak atas takhta ayahandanya.
Namun, perjalanan hidup membawa Den Ayu Kaunganten ke arah yang berbeda.
Beliau menikah dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dan memilih mendampingi suaminya dalam perjalanan dakwah serta pemerintahan di Gunung Jati, Caruban.
Karena tidak mengemban langsung tampuk pemerintahan Kraton Surosowan, urusan kekuasaan diserahkan kepada adiknya, Pangeran Surajaya.
Pangeran Surajaya kemudian naik takhta dengan gelar Prabu Pucuk Umun.
Dengan demikian, menurut pitutur, pemerintahan Kraton Surosowan tetap berada dalam garis keluarga, sementara Den Ayu Kaunganten meneruskan perjalanan keluarga dan dakwah bersama Syarif Hidayatullah.
BAB IX
PANGERAN SABAKINGKIN DAN KEMBALINYA GARIS PEWARIS
Dari perkawinan Den Ayu Kaunganten dengan Syarif Hidayatullah lahirlah keturunan yang kemudian memiliki peranan penting dalam sejarah Banten.
Salah satunya adalah Pangeran Sabakingkin atau Maulana Hasanuddin.
Ketika generasi berikutnya telah dewasa, menurut pitutur, tampuk kekuasaan Kraton Surosowan kembali diserahkan kepada garis keturunan Den Ayu Kaunganten.
Pangeran Sabakingkin kemudian tampil sebagai tokoh penting dalam perkembangan pemerintahan Islam Banten.
Dalam sejarah tertulis, Maulana Hasanuddin dikenal sebagai pendiri Kesultanan Banten pada abad ke-16.
Beliau membangun pemerintahan Islam dengan pusat kekuasaan di kawasan Banten.
Dalam kerangka pitutur, kehadiran Maulana Hasanuddin merupakan kelanjutan garis keluarga Prabu Surosowan melalui Den Ayu Kaunganten.
Dengan demikian, pembentukan Kesultanan Banten dipahami sebagai perkembangan pemerintahan baru yang memiliki akar hubungan dengan perjalanan keluarga kerajaan sebelumnya.
BAB X
DARI KERAJAAN MENUJU KESULTANAN BANTEN
Perjalanan pemerintahan Islam Banten kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya.
Kesultanan berkembang menjadi pusat kekuasaan, perdagangan, diplomasi, pendidikan agama, dan hubungan internasional.
Banten menjalin hubungan dengan berbagai kerajaan dan pusat perdagangan di Nusantara maupun dunia luar.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa Banten tidak hanya menjadi pusat pemerintahan lokal, tetapi juga memiliki kedudukan penting dalam jaringan dunia Islam.
BAB XI
SULTAN ABUL MAFAHIR MAHMUD ABDUL QADIR DAN HUBUNGAN DENGAN MAKKAH
Perjalanan sejarah tersebut mencapai salah satu tonggak penting pada masa Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir.
Beliau merupakan penguasa Banten yang memperoleh gelar Sultan melalui hubungan diplomatik dan keagamaan dengan Makkah.
Pada 1636–1638, utusan Banten melakukan hubungan dengan Makkah. Gelar Sultan bagi Abdul Qadir dikaitkan dengan pemberian legitimasi oleh Syarif Makkah.
Pada 1638, utusan Banten kembali membawa penguatan legitimasi tersebut.
Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam kedudukan politik Kesultanan Banten.
Dalam konteks hubungan internasional, Syarif Makkah memiliki hubungan politik dengan Kekhalifahan Utsmaniyah.
Oleh sebab itu, peristiwa pemberian gelar Sultan juga perlu dipahami dalam lingkungan hubungan diplomatik dunia Islam saat itu.
Namun, sumber sejarah membedakan pemberian gelar melalui Syarif Makkah dari pengangkatan langsung oleh khalifah atau Imam Masjidil Haram.
Dengan pengakuan tersebut, kedudukan Banten dalam jaringan kerajaan Islam internasional semakin kuat.
BAB XII
BENANG MERAH PERJALANAN WAHANTEN PESISIR
Jika seluruh pitutur tersebut disusun dalam satu rangkaian, perjalanan sejarah Wahanten Pesisir dapat digambarkan sebagai berikut:
JALUR WARISAN KELUARGA DAN KEIMANAN.
Mayang Sari
↓
Wastu Kencana
↓
Munding Wangi
↓
Raden Pamanah Rasa
↓
Keturunan dan garis Sunda Pakuan
↓
Prabu Surosowan atau Ki Maung Bodas
↓
Den Ayu Kaunganten
↓
Syarif Hidayatullah
↓
Pangeran Sabakingkin atau Maulana Hasanuddin
↓
Kesultanan Banten
JALUR PEMBENTUKAN PUSAT PERADABAN
Prabu Susuk Tunggal
↓
Ki Ajar Domas
↓
Ruatan atau Ngabantenan
↓
Leuweung Sabakingkin
↓
Kabuyutan Karakatu
↓
Balekambang
↓
Kute Inten
↓
Syahbandar Tanjung Arum
↓
Kraton Pakuan Surosowan
↓
Perkembangan pemerintahan Kesultanan Banten
Kedua jalur tersebut dalam pitutur bertemu pada Prabu Surosowan dan perjalanan keturunannya.
EPILOG.
WARISAN LELUHUR, IMAN, DAN PERADABAN
Dari kisah Mayang Sari hingga Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir, tersimpan sebuah pesan besar tentang perjalanan peradaban.
Ada perempuan yang mewariskan nilai keimanan kepada keluarga.
Ada bangsawan yang menyatukan hubungan antarkerajaan.
Ada pemangku kabuyutan yang menjaga adat dan tanah leluhur.
Ada syahbandar yang mengatur kehidupan pelabuhan dan perdagangan.
Ada raja yang membangun pemerintahan.
Ada ulama dan pemimpin yang meneruskan dakwah Islam.
Dan ada seorang sultan yang membawa nama Banten ke dalam jaringan dunia Islam internasional.
Menurut pitutur sepuh, perjalanan Wahanten Pesisir bukan hanya tentang pergantian nama tempat, pergantian gelar, atau perpindahan takhta.
Ia adalah perjalanan panjang tentang iman, keturunan, tanah air, adat, perdagangan, dan pemerintahan.
Tanah boleh berubah nama, pusat kekuasaan boleh berpindah, gelar boleh berganti, tetapi warisan nilai dan sejarah leluhur harus tetap dijaga.
Banten memiliki masa lalu yang patut ditelusuri, masa kini yang harus dibangun, dan masa depan yang harus diwariskan.
Mengenal leluhur bukan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, melainkan untuk memahami dari mana kita belajar, apa yang harus kita jaga, dan nilai apa yang harus kita teruskan.
Sumber :
Artikel ini adalah karya penulis Ibenk Al Bantani pengasuh Keluarga Besar Paguyupan Maung Bodas Banten yang dirangkum dari berbagai sumber sebagai bahan Edukasi, informasi, kajian dan renungan sejarah.


