https://botvkalimayanews.com/indeks/
HANKAM  

Melek Geopolitik dan Menjaga Nalar

Mengapa sih kita harus ikut-ikutan membahas apa yang terjadi di Suriah, Venezuela sampai Iran? mereka kan jauh, tidak ada hubungannya dengan kehidupan keseharian kita.

Pertanyaan itu terdengar wajar. Tapi justru di situlah letak persoalannya.

Saya jelaskan pelan-pelan.

Di era media sosial dan perang informasi hari ini, ketidaktahuan bukan lagi netral.

Ia bisa menjadi pintu masuk manipulasi. Dunia tidak lagi bekerja dengan jarak geografis, melainkan dengan arus narasi, emosi, dan persepsi.

Apa yang terjadi di Suriah, Venezuela, atau Iran hari ini, cepat atau lambat akan berdampak pada cara kita berpikir, bersikap, bahkan memilih posisi politik tanpa kita sadari.

Perlu teman-teman ketahui, geopolitik itu saat ini tidak lagi elitis.

Dulu, geopolitik adalah urusan diplomat dan jenderal. Hari ini, geopolitik hidup di linimasa FB, Twitter, TikTok, dan WhatsApp. Ia hadir dalam bentuk potongan video, narasi viral, dan slogan emosional.

Di media sosial, dunia jarang disajikan apa adanya. Ia dipotong-potong. Dipilihkan adegan yang paling emosional.

Lalu diberi kesimpulan instan: rezim jahat, rakyat tertindas, agama gagal, negara runtuh.

Suriah pernah diceritakan begitu. Venezuela juga. Kini Iran.

Narasinya hampir selalu sama. Yang berubah hanya nama negara dan latar musik videonya.

Padahal, hidup tidak sesederhana potongan video 30 detik. Negara tidak runtuh hanya karena satu masalah. Dan rakyat tidak pernah tunggal dalam pikirannya.

Ketika Suriah dihancurkan, narasi yang disebar adalah “rakyat melawan diktator”.

Ketika Venezuela diguncang, yang dikedepankan adalah “rezim sosialis gagal”.

Ketika Iran ditekan, ceritanya selalu sama: “negara agama runtuh karena menindas rakyat”.

Narasi-narasi ini dikonsumsi netizen Indonesia setiap hari, sering kali tanpa konteks, tanpa pembanding, tanpa kesadaran bahwa narasi itu bukan netral.

Nah dari ketiga negara ini, harusnya kita sudah harus sadar, ada pola yang sama, dan skema  yang digunakan sangat mirip.

Dimulai dari krisis internal (ekonomi, sosial, politik). Narasi media global dibentuk: pemerintah jahat, rakyat murni korban.

Intervensi asing dilegitimasi baik langsung atau tidak langsung. Kemudian negara melemah, rakyat menderita lebih parah.

Suriah hancur bukan karena rakyatnya terlalu kritis, tapi karena kritik internal ditunggangi kepentingan global.

Venezuela tidak ambruk karena rakyatnya bodoh, tapi karena perang ekonomi dan delegitimasi politik terus-menerus bahkan sampai pejabat presiden dicopot paksa.

Iran pun terus ditekan dengan skenario serupa, hanya saja, sejauh ini gagal dijatuhkan.

Pelajarannya jelas: tidak semua perlawanan itu membawa pembebasan. Ada yang justru membawa kehancuran.

Kenapa Ini Penting bagi netizen Indonesia?

Bukan karena kita ingin menjadi mereka. Tapi justru agar kita tidak mengulang nasib mereka.

Ini bukan soal siapa yang benar atau salah secara ideologis. Ini soal membaca pola.

Karena Indonesia bukan negara kecil dan bukan negara netral secara geopolitik.

Kita besar, strategis, kaya sumber daya, dan berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Artinya: Indonesia selalu berpotensi menjadi target narasi.

Jika rakyat Indonesia tidak terbiasa berpikir kritis terhadap isu global, maka suatu hari: tekanan ekonomi bisa dibingkai sebagai “kegagalan sistem nasional”, konflik sosial bisa dibaca sebagai “rakyat vs negara”, dan solusi yang ditawarkan selalu sama: tekanan asing, intervensi, atau perubahan sistem secara paksa.

Itu bukan teori konspirasi. Itu pola sejarah.

Karena itu ikut menyimak situasi di Iran, bukan soal setuju atau tidak.

Memahami Iran bukan berarti mengidolakan Iran. Ini soal belajar membaca dunia secara dewasa.

Iran adalah contoh negara yang  ditekan secara global, disanksi bertahun-tahun dengan sanksi maksimal yang tidak pernah dijatuhkan pada negara manapun, tapi tidak runtuh

Artinya apa?

Artinya realitas jauh lebih kompleks daripada narasi media sosial. Dan jika kita terbiasa menelan mentah-mentah cerita tentang “rezim jahat” tanpa melihat konteks geopolitik, kita sedang melatih diri untuk mudah diarahkan.

Yang perlu teman-teman tahu, netizen itu bukan penonton, tapi target. Perang hari ini bukan cuma perang senjata, tapi perang kesadaran, perang narazi. Netizen itu bukan penonton, tapi sasaran.

Teman-teman sendiri tahu, bagaimana kekuatan netizen di Indonesia itu bisa mengubah kebijakan domestik.

Nah harusnya kita itu sadar, bahwa power kita itu besar. Jangan hanya berputar pada isu nasional saja, tingkatkan levelnya ke isu global, terlebih lagi, banyak kebijakan negara itu dipengaruhi oleh tekanan global.

Nah sebagai target dan sasaran dalam perang narasi ini, opini publik global dibentuk agar: simpati diarahkan ke pihak tertentu, kemarahan diarahkan ke target tertentu, dan empati dimatikan pada korban tertentu.

Ketika rakyat Indonesia ikut menyebarkan narasi tanpa memahami kepentingan di baliknya, kita tanpa sadar akan ikut menjadi bagian dari mesin propaganda itu.

Nah dari sinilah kita perlu belajar. 

Indonesia tidak perlu menunggu menjadi Suriah atau Venezuela untuk belajar. Justru belajar sekarang adalah bentuk kewarasan.

Melek geopolitik bukan soal sok pintar, tapi soal menjaga nalar.

Selalu bertanya, siapa yang diuntungkan dari narasi ini? siapa yang disembunyikan? dan kenapa pola yang sama terus diulang?

Lebih dari itu, narasi global membentuk cara kita memandang diri sendiri.

Jika kita terbiasa percaya bahwa negara berbasis agama pasti gagal, bahwa kedaulatan selalu identik dengan penindasan, bahwa tekanan asing selalu membawa kebebasan. maka suatu hari kita akan mudah menerima narasi yang sama ketika diarahkan ke negeri kita sendiri.

Kata kuncinya teman-teman, ketika kita peduli bukan berarti kita campur tangan. 

Peduli pada Iran, Suriah, atau Venezuela bukan berarti ikut campur tangan. Itu berarti belajar dari sejarah orang lain agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

Rakyat yang paham geopolitik adalah rakyat yang sulit dipecah, sulit ditipu, dan sulit diarahkan oleh emosi sesaat. Dan bangsa yang rakyatnya berpikir kritis adalah bangsa yang tidak mudah diseret ke jurang oleh konflik global. Dan itu yang bisa kita lihat pada bangsa Iran hari ini. Itu yang membuat mereka tidak pudah dipecah belah.

Berusaha memahami apa yang sedang terjadi di luar sana, bukan berarti kepo. Melainkan belajar membaca dunia dengan lebih dewasa. Menunda penghakiman.

Bertanya lebih dalam. Tidak mudah larut dalam kemarahan yang disiapkan orang lain.

Kompas bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh elit, tetapi juga oleh kesadaran warganya. Dan kesadaran itu lahir dari kemauan untuk memahami, bukan sekadar bereaksi.

Mungkin banyak dari kita memang tidak pernah menginjakkan kaki di Teheran, Damaskus, atau Caracas. Tapi cerita tentang kota-kota itu sedang mengetuk pintu pikiran kita setiap hari.

Pertanyaannya bukan lagi: “Kenapa kita harus peduli?”

Melainkan: “Apa yang bisa kita pelajari sebelum giliran kita tiba?”

Sumber : WAG Masjarwo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *