OLEH: IBENK AL BANTANI

Menggali Akar Peradaban, Pitutur Karuhun, dan Jejak Hubungan Sunda-Bali
1. Banten: Sebuah Nama yang Menyimpan Makna
Banten bukan sekadar nama wilayah. Di balik namanya tersimpan kemungkinan jejak bahasa, adat istiadat, tradisi spiritual, dan perjalanan panjang peradaban Nusantara.
Menurut pitutur karuhun yang diwariskan secara lisan, kata Banten memiliki hubungan dengan istilah ngabantenan, yaitu kegiatan mengeluarkan atau mempersembahkan sesajen yang disertai pembacaan Wawacan Sunda.
Tradisi ini bukan hanya dikenal dalam penuturan masyarakat, tetapi menurut keterangan masyarakat setempat, praktik ngabantenan masih dijumpai di lingkungan masyarakat adat Cibeo dan sejumlah tempat lainnya.
Dalam kebudayaan Bali, dikenal pula istilah banten untuk menyebut sarana persembahan dalam upacara adat dan keagamaan.
Kesamaan istilah ini menjadi pintu masuk untuk meneliti hubungan bahasa dan kebudayaan Nusantara.
2. Banten dan Bali: Jejak Kebudayaan yang Beririsan Hubungan Banten dan Bali menarik untuk dikaji melalui kesamaan istilah, tradisi, arsitektur, dan keberadaan masyarakat Bali di Banten.
Salah satu petunjuk arsitektural dapat dilihat pada Keraton Kaibon, yang memperlihatkan perpaduan unsur arsitektur Jawa-Bali, Islam, dan Eropa.
Selain itu, terdapat penuturan mengenai nama I Gede Pekalangan dan I Gede Lopang yang dihubungkan dengan nama tempat Pekalangan Gede dan Lopang Gede.
Penuturan tersebut merupakan pitutur yang patut diteliti melalui arsip, naskah, dan silsilah sejarah setempat.
3. Kehadiran Orang Bali dalam Kesultanan Banten.
Hubungan Banten dan Bali tidak berhenti pada kesamaan budaya.
Catatan sejarah menyebutkan kehadiran orang Bali di Banten sekitar tahun 1678.
Sebagian di antaranya terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan dan kemiliteran di lingkungan Kesultanan.
Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, orang Bali juga termasuk kelompok yang mendukung perjuangan Banten menghadapi VOC, bersama unsur masyarakat Makassar dan Melayu.
Keberadaan komunitas Bali di kawasan Kebalen menjadi salah satu jejak penting hubungan tersebut.
Hal ini memperlihatkan bahwa Banten merupakan pusat pertemuan berbagai suku, bangsa, dan kebudayaan Nusantara.
4. Banten sebagai Pusat Peradaban Pesisir.
Letak Banten yang strategis menjadikannya pusat perdagangan dan pertemuan berbagai kebudayaan.
Melalui jalur laut, Banten berhubungan dengan berbagai wilayah Nusantara dan dunia luar.
Kekuatan Banten tidak hanya dibangun melalui perdagangan, tetapi juga melalui persaudaraan, ilmu pengetahuan, keagamaan, diplomasi, dan kekuatan pertahanan.
Banten menjadi gambaran bahwa peradaban besar tumbuh melalui kemampuan menerima perbedaan tanpa kehilangan jati diri.
5. Makna Spiritual Ngabantenan.
Apabila ditinjau dari nilai filosofis, tradisi ngabantenan dapat direnungkan sebagai ungkapan rasa syukur, penghormatan terhadap kehidupan, dan kesadaran manusia terhadap alam.
Dalam perjalanan masyarakat menuju Islam, nilai rasa syukur, doa, dan pengabdian kepada Allah menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual.
Dengan demikian, warisan budaya dapat dipelajari sebagai sejarah dan kearifan masyarakat, tanpa mencampuradukkan keyakinan dan tata cara ibadah.
6. Pelajaran dari Sejarah Banten.
Banten pernah mengalami masa kejayaan, perpecahan, konflik kekuasaan, perlawanan terhadap VOC, hingga perjalanan panjang menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan sebuah negeri bukan hanya ditentukan oleh kerajaan, senjata, dan kekayaan alam.
Kekuatan sejati terletak pada persatuan masyarakat, keteguhan iman, kecerdasan, keberanian, dan keluhuran budi.
7. Menuju Banten yang Istimewa.
Banten masa depan harus mampu menghormati masa lalu tanpa terjebak dalam romantisme sejarah.
Generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menggali warisan leluhur, menjaga kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat ekonomi, serta membangun persaudaraan.
Jangan hanya mewarisi kebesaran nama leluhur, tetapi warisilah semangat perjuangan dan kebijaksanaannya.
PENUTUP: FALSAFAH BANTEN
Banten adalah tanah yang menyimpan jejak peradaban.
Bahasanya menyimpan ingatan, adatnya menyimpan kearifan, sejarahnya menyimpan perjuangan, dan spiritualitasnya mengajarkan manusia untuk mengenal jati diri.
Tanah adalah tempat berpijak.
Sejarah adalah cermin perjalanan.
Budaya adalah identitas.
Iman adalah cahaya kehidupan.
Persaudaraan adalah kekuatan.
Keluhuran budi adalah tujuan.
Mari kita gali sejarah dengan ilmu, menjaga tradisi dengan kebijaksanaan, dan membangun masa depan dengan persatuan.
BANTEN BUMI PERTIWI TERCINTA
Keberanian & Cahaya Iman Banten Pesisir.
Sumber :
Artikel ini adalah karya penulis Ibenk Al Bantani pengasuh Padepokan Balekambang Kute Inten Banten yang dirangkum dari berbagai sumber sebagai bahan Edukasi, informasi, kajian dan renungan sejarah.
[Redaksi]






