Balai Besar Serayu Opak (BBWSO) DIY Mulai Bergerak Turunkan Personilnya

Sleman [DIY] botvkalimayanews.com|| Pasca musim kemarau yang terjadi beberapa bulan belakangan ini di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kini DIY kembali di guyur hujan.
Diakhir bulan Oktober ini curah hujan yang mengguyur DIY intensitasnya mulai tinggi, walau tidak berdampak mengganggu, beberapa wilayah mulai tergenang air hujan, terlebih nanti memasuki awal November, musim penghujan akan datang, intensitas curah hujan bisa saja semakin tinggi, sehingga di khawatir kan dapat menimbulkan bencana bila tidak ada antisipasi dini.
Adanya perubahan iklim atau musim dari musim kemarau ke musim penghujan ini pemerintah daerah bersama-sama warga harus sudah melakukan kesiapsiagaan bencana, mengantisipasi kawasan atau titik-titik rawan dan membebaskan terhambatnya aliran-aliran air yang ada, seperti Kali, irigasi dan drainase. atau got.

Menyikapi hal ini, Jurnalis BOTV, anggota IWO Indonesia yang juga Pengiat Sosial, Taufik mengingatkan Pemerintah DIY dan jajarannya baik Pemkan dan Pemkot untuk mempersiapkan personil dan jajarannya, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PU, dinas kebersihan, BPBD dan para relawannya bersama masyakarat agar bergerak mengantisipasi terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Begitu juga jajaran Balai Besar Serayu Opak Yang ada di DIY (BBWSO) untuk mempersiapkan Personilya bila terjadi banjir di Kali Code dan juga Sungai Winongo serta Sungai Opak.
Sejak dini harus sudah berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Sleman serta kabupaten Bantul dan pemerintah kota Jogyakarta.
Daerah yang berpotensi tanah longsor adalah Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Kulonprogo dan kabupaten Sleman, ini perlu di waspadai oleh Pemerintah kabupaten dan pemerintah propinsi DIY pada saat musim hujan pada bulan November dan Akhir Tahun 2026 mendatang di DIY.
Taufik yang langsung turun kelapangan melihat dan memastikan kesiapan jajaran pemerintah DIY dari 4 kabupaten dan Kota Jogyakarta dalam mengantisipasi banjir sebelum turunnya hujan di awal bulan November dengan intensitas lebih tinggi.
Gerak cepat antisipasi tersebut adalah normalisasi kali, irigasi dan drainase-drainase yang menjadi titik rawan terganggunya aliran air bila hujan turun.
Namun upaya ini dinilai helum sepenuhnya maksimal, normalisasi terhadap aliran air terutama drainase-drainase yang ada di pasar-pasar dan pemukiman yang masih terdapat banyak sampah rumah tangga dan pasar masih belum tersentuh.
Seperti drainase atau got yang berada di pasar gading, masih terlihat sampah yang memenuhi drainase atau got bilang tidak dinormalisasi rawan terhadap penyebab terjadinya banjir.
Pemerintah juga perlu memperhatikan di bagian hulu kali Gendol yang berdekatan langsung dengan gunung Merapi.
Taufik mengajak seluruh masyarakat DIY agar berperan aktif membantu Pemda dalam kesiapsiagaan bencana, bersama-sama mengantisipasi berbagai bencana dengan membersihkan dan menjaga lingkungannya masing-masing.
[REDAKSI]







