Serang [Banten] botvkalimayanews.com||Aroma ‘bau busuk’ ketidakadilan dalam distribusi minyak goreng bersubsidi, Minyakita, di wilayah Kabupaten Serang kian menyengat.
Perum Bulog pun jadi sasaran kritik tajam setelah dituding sengaja menghambat akses pembelian bagi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di seluruh Kabupaten Serang.
Hingga saat ini, edaran resmi yang dinanti-nanti para pengelola koperasi desa tak kunjung terbit, sementara stok dilaporkan justru mengalir deras ke titik-titik lain yang dianggap lebih menguntungkan secara sepihak.
Kebijakan yang dinilai Diskriminatif ini membuat Ketua KDMP sekaligus Ketua Forum Koperasi Desa Merah Putih Kabupaten Serang Kang Ilung angkat bicara, dan menyatakan kekecewaannya yang mendalam atas sikap Bulog yang dinilai tidak profesional dan diskriminatif.
Ia mensinyalir adanya aroma bau tidak sedap pengalihan stok secara terstruktur ke pasar-pasar binaan Bulog, yang mengakibatkan koperasi desa “gigit jari”.
Kami merasa dikhianati. Sampai detik ini edaran pembelian kembali untuk Koperasi Desa Merah Putih se-Kabupaten Serang masih gelap.
Padahal, informasi yang kami terima, stok itu ada, tapi sepertinya sengaja dialihkan ke pasar-pasar binaan mereka sendiri.
“Ini jelas bentuk pengabaian terhadap institusi ekonomi desa,” tegas Ilung dengan nada tinggi.
Senada dengan Ilung, Kritik Pedas terhadap Birokrasi Bulog juga dilontarkan Ahmad Zaenal Sekertaris Forum Koperasi Desa Merah Putih kabupaten Serang.
Ia menilai Bulog telah gagal menjalankan fungsinya sebagai penyangga pangan rakyat Indonesia yang berkeadilan.
Menurutnya, tindakan memprioritaskan pasar binaan ketimbang koperasi desa adalah langkah mundur yang mencederai semangat ekonomi kerakyatan.
“Sangat mengecewakan, Bulog seolah-olah bermain di zona nyaman dengan pasar binaannya saja, sementara akses untuk koperasi desa ditutup rapat. Kami menduga adanya pat gulipat tata kelola distribusi yang tidak sehat di internal Bulog.
Rakyat di desa yang paling dirugikan, karena mereka kehilangan akses mendapatkan Minyakita melalui koperasi terdekat,” ketus Ahmad Zaenal.
Ancaman Kelangkaan di Desa.
Sikap bungkam Bulog terkait edaran pembelian ini dianggap sebagai bentuk sabotase terhadap ketahanan pangan nasional di tingkat akar rumput. Dampak dari kebijakan ini sangat nyata:
Marginalisasi Koperasi:
KDMP yang memiliki jaringan langsung ke warga desa seperti sengaja dilumpuhkan aksesnya.
Monopoli distribusi dugaan pengalihan stok ke pasar binaan memperlihatkan ambisi Bulog untuk menguasai jalur distribusi tertentu tanpa memperdulikan pemerataan.
Kekecewaan Publik atas Ketidakpastian ini pun memicu mosi tidak percaya dari para pengurus koperasi se-Kabupaten Serang terhadap kinerja pimpinan Bulog setempat.
Para tokoh koperasi mendesak agar Bulog segera memberikan klarifikasi transparan dan membuka kembali kran pembelian untuk KDMP.
Jika edaran tidak segera dikeluarkan, maka mereka mengancam akan membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih tinggi agar dilakukan evaluasi total terhadap manajemen distribusi Bulog di wilayah Serang.
Diduga sinyalemen Bulog “Main Mata” Stok Minyakita untuk KDMP kabupaten Serang Raib dialihkan ke Pasar Binaan.
Aroma busuk ketidakadilan dalam tata kelola pendistribusi minyak goreng bersubsidi oleh Bulog di wilayah Kabupaten Serang di desak agar di evaluasi sesuai dengan aturan dan peraturan yang ada. [Red013]
IWO-I KAB. SERANG








